Latar Belakang Visi Misi Nilai Keunggulan Struktur Organisasi Susunan Pengurus
TKIT Al-Ummah KBIT Al-Ummah TAAS Al-Ummah

Agenda »

Agenda »

Galeri Foto »

Anda Pengunjung Ke »

Kamis, 31 Mei 2012 | 10:34 | 0 Comments

Dicari!!! Dai untuk Anak!!!


“...dan ketika Nabi Muhammad sedih, datanglah malaikat Jibril mengajak Nabi Muhammad piknik di tempat-tempat istimewa...dengan mengendarai bouraq yang lebih cepat dari pesawat... wessssssss... lebih cepat dari helikopter... wengng..weng..weng lebih cepat dari kereta api... niuww..jes..jes..jes.. pulangnya membawa oleh-oleh perintah sholat 5 waktu, siapakah yang rajin sholat 5 waktu..??” dengan serta merta ratusan anak mengacungkan tangannya demi mendapat hadiah VCD dongeng dari Kak Bimo, Master Dongeng Indonesia yang diundang Al Ummah Rabu, 30 Mei 2012.

“Negeri ini punya banyak motivator, sayang sangat sedikit motivator anak” papar Kak Bimo prihatin. Peraih rekor MURI untuk pendongeng dengan ilustrasi suara terbanyak (172 suara) ini menyampaikan kerinduannya pada hadirnya dai-dai untuk anak. “Dibutuhkan motivator untuk anak, bukan sekedar mengajar” jelasnya pada Al Ummah sebelum tampil “menghipnotis” ratusan anak dan orangtua.


Kak Bimo yang juga deklarator Gerakan Membangun Karakter Bangsa Melalui Cerita menyatakan kekagumannya pada langkah konkrit Al Ummah yang berhasil merancang kurikulum karakter dengan indikator yang rinci dan bersumber dari 10 Muwasshofat.

“Ini juga inisiatif sendiri ya? Wah.. Al Ummah jadi banyak memberi manfaat ya...” komentarnya saat melihat Buku-buku Tema hasil karya guru-guru Al Ummah yang jadi salah satu bahan belajar guru-guru sekolah lain saat studi banding ke Al Ummah. “Memang sekolah berkualitas itu sebanding dengan harga” lanjut peraih rekor MURI untuk kategori pendongeng dengan audience terbanyak, 12.000!!!. []
Read More - Dicari!!! Dai untuk Anak!!!

Rabu, 16 Mei 2012 | 09:00 | 0 Comments

Baca Buku, Alternatif Rekerasi Bermutu


17 Mei sebagai Hari Buku Nasional belum banyak diketahui orang Indonesia. Dalam rangka Hari Buku Nasional, Al Ummah menggelar event Al Ummah Book Fair bertempat di halaman Sekolah Al Ummah. Sejak tanggal 3-6 Mei Al Ummah Book Fair digelar dengan tujuan utama menjadikan membaca buku sebagai alternatif rekreasi dan sahabat keluarga. Meski hanya empat hari digelar pameran buku anak dan keluarga ini mendapat banyak simpati dan kunjungan dari wali murid Al Ummah maupun masyarakat umum.

Sebelum ditutup, Al Ummah Book Fair juga dimeriahkan ratusan siswa PAUD dari kecamatan Manyar yang mengikuti Lomba Mewarnai. “Acara ini juga sebagai perayaan tema Aku Senang Membaca. Dengan tema ini, anak-anak bukan hanya tahu manfaat membaca buku tapi juga cara menjaga buku, cara membaca buku yang baik serta aturan saat di perpustakaan” jelas Siti Amaliati, ketua pelaksana.



Selain Book Fair yang rencananya akan digelar setiap tahun, di akhir tema anak-anak Al Ummah juga diajak membaca buku sepuasnya. Dengan antusias anak-anak memilih buku. “Setiap hari anak-anak Al Ummah meminjam buku di perpustakaan. Mereka begitu antusias. Selalu mampir ke perpustakaan sebelum pulang” lanjut Siti Amaliati.[]
Read More - Baca Buku, Alternatif Rekerasi Bermutu

Senin, 07 Mei 2012 | 14:18 | 0 Comments

Lomba Peringatan HAN, Al Ummah Jadi Tuan Rumah

Sekitar 750 anak dan wali murid kelompok bermain se-kecamatan Manyar memadati halaman KBIT Al Ummah, Ahad (29/4). Mereka datang untuk mengikuti berbagai lomba yang digelar Himpaudi Kecamatan Manyar dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN).

"Meskipun hari anak nasional jatuh pada tanggal 23 Juli, berbagai lomba yang digelar pada hari ini semoga memberikan lebih banyak manfaat hingga puncak acara di bulan Juli nanti," kata Pembina Yayasan Al Ummah, Muhammad Rusli, dalam sambutan pembukaan.

Di hadapan ratusan wali murid, Rusli menyampaikan harapan agar lomba-lomba tersebut tidak sekedar dimaknai sebatas mencari pemenang atau juara.

"Lomba-lomba tersebut adalah stimulus atau rangsangan bagi buah hati kita untuk bersosialisasi, melatih kreatifitas, serta perkembangan psikis maupun fisik-motoriknya," tambah Rusli.


Pembina yayasan Al Ummah
Muhammad Rusli
Sebanyak lima lomba digelar pada peringatan HAN di Al Ummah. Yaitu lomba mewarnai, lomba hafalan surat pendek, lomba lego, lomba outbound dan lomba menyanyi.

Sebelum dimulai, lomba peringatan HAN tersebut dibuka oleh Kepala Pengawas PLS, Erfan, yang juga memberikan sambutan.

Anak-anak tampak antusias mengikuti lomba-lomba tersebut. Bahkan sebagian anak bersama orangtuanya belum mau pulang meskipun lomba telah usai. Mereka asyik menunggu di halaman, di taman bermain, hingga di masjid Islamic Center yang cukup nyaman meskipun menjelang Dzuhur gerimis mulai datang. []
Read More - Lomba Peringatan HAN, Al Ummah Jadi Tuan Rumah

Selasa, 24 April 2012 | 09:00 | 0 Comments

Senangnya Punya Banyak Teman


Kali ini School Responsibility Al Ummah menyapa anak-anak dan Bunda PAUD. Lebih dari 400 siswa PAUD dari 7 POS PAUD di kecamatan Manyar, Gresik, menyambut baik kedatangan anak-anak KBIT-TKIT Al Ummah pada 11, 12 dam 18 April 2012.

“Acara ini merupakan puncak Tema Senangnya Punya Banyak Teman. Kami ingin mengajak anak-anak silaturrahim dan berbagi mainan edukatif dengan teman-teman PAUD” kata Ulifatun Nihayah, ketua pelaksana acara tersebut. “Mainan kami beli dari hasil infaq anak-anak Al Ummah sehari-hari, yang membungkusnya juga anak-anak” tambahnya.

PAUD yang dikunjungi umumnya menggunakan Balai RW atau Balai Desa sebagai tempat belajar. Dengan cekatan para pengajar yang merupakan sukarelawan kader PKK tersebut mengajak bermain anak-anak Al Ummah. Dengan didampingi Bunda PAUD (istilah bagi guru PAUD) dan orangtuanya, anak-anak PAUD tidak butuh waktu lama untuk bercengkrama dan bermain dengan anak-anak Al Ummah.

“Kami sangat senang dikunjungi apalagi dengan bantuan mainan ini. Sudah lama tidak ada yang mengunjungi dan memperhatikan sekolah kami” tutur Bunda PAUD Banjarsari dengan wajah sendu dan tulus.

Program sosial Al Ummah rupanya tidak berhenti hanya dengan berbagi mainan edukatif. Seperti yang dipaparkan Musrifah, Humas Al Ummah “Kedepan kami juga berinisiatif memberikan pelatihan dan program lain yang lebih produktif dan edukatif untuk para Bunda PAUD”. []
Read More - Senangnya Punya Banyak Teman

Senin, 23 April 2012 | 08:00 | 0 Comments

Gadis kecil yang bercita-cita menjadi guru itu…


Ketika anak-anak Al Ummah riuh tertawa sambil bermain air dan pasir, melukis, mencampur dan menemukan warna, jauh di belakang zaman, seraut wajah bulat kanak-kanak tampak kecewa. Bening mutiara berjatuhan di pipi cempluknya. Ia tidak diijinkan bermain bunga dan tanah. Ia tidak mengerti kenapa si mbok begitu menjaga kehalusan tangannya. Gadis kecil itu tidak butuh perhatian dan rasa hormat yang luar biasa padanya. Gadis kecil itu hanya ingin bermain bebas dimana saja dengan siapa saja.

Di Al Ummah, kita bertasbih mendengar anak-anak terbiasa melafalkan surat-surat dalam Al Quran, melafalkan hadist dan doa beserta artinya. Disana si gadis kecil di hardik dan diusir. Sang guru ngaji tidak suka ia banyak bertanya Sungguh…ia hanya ingin tahu terjemahan Al Qur’an yang dibacanya. Sang guru menganggap pertanyaannya tabu luar biasa.

Belum genap 6 tahun usianya ketika gadis kecil itu memasuki sekolah dasar. Tempat ia begitu penasaran dengan satu kata, “cita-cita”. Lagi-lagi mata beningnya berkaca-kaca ketika kakak laki-lakinya menjawab pertanyaannya.

“Wanita Jawa? Tentu saja jadi permaisuri atau….jadi ronggeng” jawab kakaknya enteng.

“Tidak, aku harus jadi sesuatu yang lebih berarti” tekad sang gadis kecil dalam hati.

Menginjak remaja, gadis itu tak kuasa melawan konsekwensi darah ningrat yang mengalir dalam tubuhnya di 12 tahun usianya. Burung lincah itu harus tetap dalam sangkarnya.

Namun, dalam pingitan di penjaranya yang penuh ukir aristokrat Jawa, ia memperoleh jawaban atas pertanyaannya. Guru. Ya…dengan menjadi guru ia bisa memberikan ilmu pengetahuan kepada rakyatnya yang terjajah. Dengan menjadi guru ia berpeluang memberikan pendidikan bagi negeri yang sangat dicintainya. Dengan menjadi guru berarti pula ia membuka gerbang perubahan untuk bangsanya ke masa yang lebih maju dan beradab.

Di zaman dimana tulis menulis adalah expensive & impossible activity bagi pribumi Jawa, apalagi wanita. Sang gadis Jawa tulen itu telah menuliskan ratusan surat berbahasa Belanda. Surat-surat yang membawa serta gagasan, pemikiran, kritik bahkan blueprint untuk pendidikan dan kesejahteraan rakyatnya itu telah menggetarkan tangan para pejabat Belanda yang menerima surat-suratnya.

Melalui tinta penanya, seni ukir Jepara dan Batik Jawa hasil karya tangan-tangan pribumi yang tak pernah mengenyam sekolah dihargai di mata dunia. Melalui tinta penanya, tergopoh-gopoh para politikus etis Belanda berebut mendukung berdirinya sekolah untuk pribumi Jawa.

“Tak boleh lama” kata hati si gadis berapi-api. Selepas masa pingitannya, masih di belasan tahun usianya, dibukalah sekolah dasar gadis pribumi pertama di Jawa, bahkan di Indonesia. Gadis yang beranjak dewasa itu menyebut sekolahnya sebagai ‘Sebuah Keluarga Besar yang Akrab’.

Pagi yang cerah. Ketika sang gadis mengajar baca tulis dan ketrampilan hidup pada anak-anak pribumi di sekolahnya, sebuah surat menggenapkan kebahagiaannya. Permohonan beasiswa studi di Belanda terwujud. Siapa sangka? Hati agung sang gadis lebih ningrat dari namanya. Ia berikan beasiswa yang sudah di depan mata kepada salah satu putra terbaik bangsa yang tidak pernah dikenalnya, Agus Salim. Ia percayakan kelas mungilnya yang makin ramai dengan tawa siswa kepada adik-adik binaannya.

Gadis itu memilih untuk menyambut surat yang datang beberapa hari kemudian. Dari Bupati Rembang yang telah mendengar sepak terjangnya dan memohon diizinkan mendukung perjuangannya.

“Ataukah karena sekarang ini ada kesempatan yang lebih baik lagi untuk mewujudkan cita-cita saya hendak bekerja untuk bangsa kami? Di sisi seorang laki-laki yang cakap dan mulia, yang saya hormati, yang bersama saya mencintai rakyat kecil dan yang akan membantu saya sekuat tenaga di dalam usaha saya, saya akan dapat jauh lebih banyak bekerja untuk bangsa kami daripada yang mungkin akan dapat kami lakukan sebagai dua orang perempuan yang berdiri sendiri”
(RA Kartini, 1 Agustus 1903)

Tentu saja, kata kita, Kartini tidak perlu demikian jika ia hidup di zaman ini dimana begitu banyak orang yang ingin jadi guru (meski beragam motivasinya). Namun, dizamannya, Kartini adalah single fighter di kancah pendidikan. Ia memahami bahwa kemerdekaan negerinya tidak cukup diperjuangkan dengan darah tapi kemerdekaan yang berkualitas membutuhkan pendidikan yang berkualitas.

Kartini lebih memilih menjadi “Ibu Masyarakat” (tulis Kartini) dengan mengasuh enam anak Bupati Rembang dan membuka sekolah baru di rumah suami yang mendukung lahir batin perjuangannya. Hanya satu motivasi dibalik luasnya samudra pengorbanannya-keikhlasannya, sebagaimana yang ia tulis dalam suratnya “Jalan kepada Allah – jalan ke arah kebebasan sejati hanyalah satu. Siapa yang sesungguhnya mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada seorang manusia pun, ia sebenar-benarnya bebas” (RA Kartini, Oktober 1900)[]


Penulis : Musrifah, M.Med Kom
Pendidik di Al Ummah Gresik
Read More - Gadis kecil yang bercita-cita menjadi guru itu…
 

Paling Banyak Dibaca Pekan Ini

Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by Jurnalborneo.com
Proudly powered by Blogger.com | Modif by AbuNida